Wednesday, 8 June 2016

Hati Yang Mati

No comments:
Hati dapat dilihat dari dua sudut pandang. Secara biologis hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan emanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.

Namun pada pembahasan ini, kita melihat hati dari sudut pandang spiritual atau agama, dimana hati yang dalam bahasa arab disebut "Qalbu" yang mempunyai makna sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniah (kerohanian) dan mempunyai keterkaitan dengan hati yang jasmaniah.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai hati yang mati, maksudnya bukanlah mati secara biologis, akan tetapi mati menurut pandangan agama.

Hati yang mati itu tidak ada bedanya dengan jasad yang sudah tidak bernyawa. Walaupun dipukul, dicubit, bahkan ditusuk-tusuk sekalipun, ia tidak akan merasakan apa-apa. Sehingga orang yang hatinya telah mati melakukan perbuatan baik atau pun buruk rasanya akan sama saja, biasa-biasa saja, dan tidak ada nilainya sama sekali.


Ada 2 ciri utama hati yang mati:

1. Selalu menolak akan kebenaran dari Allah.
2. Selalu melakukan kerusakan / berlaku zhalim kepada sesama makhluk hidup     bahkan terhadap dirinya sendiri.

Hati yang mati secara tersirat disinggung dalam surat Al-Baqarah ayat 7: 

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang berat”.

Serta dalam riwayat Ibrahim bin Adam atau dikenal juga dengan nama Abu Ishaq, yang sedang berjalan dipasar Bashrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan seraya bertanya: "Wahai Abu Ishaq, sudah sejak lama kami memanjatkan do'a kepada Allah, tetapi mengapa do'a-do'a kami tidak di kabulkan? Padahal Allah telah berfirman dalam kitab-Nya; "Berdo'alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do'a kalian." (QS.Ghoofir : 60). 

Menyangkut pertanyaan tersebut Abu Ishaq menjawab, "Hal itu dikarenakan hati kalian telah mati dengan sepuluh perkara berikut :

  1. Kalian mengenal Allah tetapi kalian tidak menunaikan kewajibannya.
  2. Kalian mengakui mencintai Rasulullah, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
  3. Kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkan isi kandungannya.
  4. Kalian sangat banyak diberi nikmat karunia, tapi kalian tidak mensyukurinya.
  5. Kalian selalu mengatakan bahwa syetan itu musuh kalian, tetapi kalian     mengikuti langkahnya.
  6. Kalian mempercayai surga itu ada, tetapi kalian tidak berbuat amal untuk   mengantarkannya kesana.
  7. Kalian mempercayai neraka itu ada, tetapi kalian tidak lari dari panas siksanya.
  8. Kalian mengakui bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
  9. Kalian sibuk mengurusi kekurangan orang lain, akan tetapi lupa pada kekurangan diri sendiri.
  10. Kalian mengubur jenazah, akan tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
lantas bagaimana caranya agar kembali menghidupkan hati yang mati? Mulailah dengan sungguh sungguh bertaubat. Allah janji akan mengubah keadaan mereka yang sungguh-sungguh bertaubat. "Yubaddilullaahu sayyiaaatihim hasanaat." (QS Al Furqon 70).

Tadinya kotor menjadi bersih, tadinya hina menjadi mulia, tadinya mati menjadi hidup, tadinya hatinya keras menjadi mudah menangis. 

Kedua, banyak berdzikir, beristighfar dan bersholawat, "liyukhrijakum minazhzhulamaati ilan nuuri." Mereka yang banyak berdzikir, Allah keluarkan dari kegelapan menuju cahayaNya." (QS Al Ahzab 41-44). 

Dan Rasulullah pun mengingatkan bahwa perbedaan hamba yang berdzikir dengan yang tidak, seperti orang yang hidup dengan yang mati. 

Ketiga, menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW, seperti menegakkan salat malam, tadabbur Alquran, berjamaah di masjid, sedekah, selalu menjaga wudhu, dan sebagainya. Lakukan dengan kesadaran, kecintaan kepada Rasulullah, dan lakukan istiqomah terus menerus, jangan putus. 

Maka "wa ashlaha baalahum", Allah ubah keadaan mereka (QS Muhammad: 2). Tentu yang paling utama adalah serius taat, maka banyak keajaiban pada hamba Allah yang sungguh-sungguh taat. 

"Barangsiapa bertakwa sungguh-sungguh maka Allah tunjukkan jalan keluar dari masalahnya, dan rizki yang tidak pernah ia duga." (QS Ath Thalaq: 2-3).

Referensi :

No comments:

Post a Comment

 
back to top